Sabtu, 07 April 2012

Edensor

IDENTITAS BUKU
edensorJudul : Edensor
Pengarang : Andrea Hirtaa
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbitan : 2007
Tebal Buku : xii + 290 halaman
Ukuran Buku : 20,5 cm x 14 cm
Diresensi oleh Shelvi Novianita
SINOPSIS
“Jangan Takut Melangkah”
“Edensor” bercerita mengenai kehidupan Ikal dan Arai semasa berkuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan petualangan penaklukan gagah berani dataran Eropa dan Afrika, dari Belanda sampai ke Italia, dari Tunisia sampai ke Casablanca dan kembali masuk Portugal.
Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Perancis, Ikal dan Arai, mengalami banyak kejadian ynag orang bisa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekalii dengan perdaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia, kususnya melayu.
Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan-kenakalan yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Pembaca akan dibawa ke dalam petualangan mereka menyusuru Eropa dengan berbagai penglaman yang mencengangkan, mencekam, membuat terbhak, sekaligus berurai air mata.
“Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup rupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku jhidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemugkinan yang bereaksi satu sama yang lain. Seperti benturan molekul uranium, meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku igin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing”.
Bagaiman akhir petualangan Ikal dan Arai? Mampukah mereka ‘melangkah’ di kehidupan baru mereka? Kehidupan yang berbeda dari kehidupan yang mereka jalani sewaktu di Belitong. Ingin tahu cerita “Edensor” selengkapnya? Bacalah novel “Edensor” secara utuh! Sebab selain menghibur, “Edensor” juga sarat akan makna dan manfaat.
KELEBIHAN

    * Kover buku menarik.
    * Beragam peristiwa menarik, lucu, penuh semangat, serta mengharu-biru membuat pembaca tidak mudah menutup buku sebelum membacanya secara tuntas.

KEKURANGAN

    * Mengapa penulis mengambil judul “Edensor”, yaitu nama sebuah desa khayalan yang dikutip dari novel Herriot? Mengapa harus “Edensor” ? Mengapa harus nama sebuah desa khayalan? Bukankah yang “nyata” itu lebih menarik karena benar-benar ada dalam kehidupan yang sebenarnya?

KEBERMANFAATAN

    * Memberikan semangat atau motivasi pada pembaca untuk terus berjuang dalam mengarungi kehidupan
    * Menghibur pembaca dengan beragam peristiwa lucu dan petualangan yang mendebarkan
    * Memberikan pesan bahwa apapun bisa terjadi jika kita mau berdo’a, berusaha dan terus berusaha
    * Mengingatkan kita untuk tidak takut melakukan suatu hal yang baru.

http://mynoble.wordpress.com/2009/11/07/resensi-novel-edensor/

Cinta Dalam Belanga

Judul Buku : Cinta Dalam Belanga
Penulis : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit : Kakilangit Kencana
Tebal : 271 Halaman
Terbit : Juni 2009

Kumpulan Kisah Cinta yang Pedih

CINTA lebih sering menawarkan kesenangan, romatisme, dan membuat siapa pun yang terjerat mabuk kepayang. Padahal cinta pun memiliki sisi gelap yang selalu mengikuti setiap saat. Ada kesedihan, kepedihan, sampai sebuah akhir yang tragis.

Jadi siapa pun yang berani mengarungi cinta untuk mendapatkan kebahagiaan, juga harus bersedia menerima pedihnya cinta. Karena kepedihan sering bersembunyi di dalam keceriaan, ada sembilu dalam senyuman, dan ada tragedi dalam romantisme.

Begitulah gambaran tentang cinta yang terangkum dalam Antologi Cerpen Cinta Dalam Belanga karya Ambhita Dhyaningrum yang diterbitkan Kakilangit Kencana. Dalam buku setebal 271 halaman yang berisi sekitar 23 cerita pendek, digambarkan sisi lain tentang cinta yang tragis.

Ada seorang buruh yang cantik, lugu, dan cerdas sehingga mampu menarik hati setiap lelaki. Ternyata senyumnya berbisa dan mampu menghancurkan hati siapa saja yang mendekatinya.

Ada pula perempuan yang merasa mampu mempermainkan hati setiap lelaki hanya untuk mendapatkan kekayaannya. Belakangan dia tersadar kalau dirinya yang selama ini sudah dipermainkan para lelaki yang ingin mencicipi tubuhnya.

Dikisahkan pula sosok lelaki yang begitu kuat fisiknya dan bersikap tegar dalam menghadapi berbagai tantangan. Nyatanya dia seorang lelaki yang rapuh dan tak bisa mengontrol diri karena kehilangan istri tercinta akibat konspirasi.

Tak ketinggalan diceritakan tentang seorang pelukis renta yang tak pernah menikah seumur hidupnya dan dianggap tak menyukai perempuan. Malah memiliki imajinasi liar dalam karya lukisannya, bersanding dengan istri tetangga yang cantik dan sering mengirimkan makanan ke rumahnya.

Alhasil, Antologi Cerpen ini merupakan karya yang mampu mengangkat sisi gelap dari berbagai kisah cinta. Semuanya diceritakan secara apik dan gaya bahasa yang lugas sehingga mampu memacu adrenalin. Apalagi diakhir kisah yang selalu tragis, ditampilkan berbagai ending yang tak lazim dan mendebarkan.

Buku ini akan mengajak Anda mengarungi betapa pedih, perih, dan tragisnya sisi gelap sebuah cinta. Jangan pernah bermain-main dengan cinta, karena bila tak mampu mengendalikannya akan menjadi bumerang bagi siapa pun. (wasis wibowo)

http://resensibukubaru.blogspot.com/search?q=resensi+cerpen

SANG PEMIMPI

1. 1. Identitas Buku

Judul                   : Sang Pemimpi

Penulis                : Andrea Hirata

Penerbit               : PT Bentang Pustaka

Halaman              : x + 292 Halaman

Cetakan               : ke-14, januari 2008

Jenis Cover         : Soft Cover
Dimensi(L x P)   : 130×205mm
Kategori              : Petualangan
Harga                  : Rp 40.000
Text                     : Bahasa Indonesia

ISBN                   : 979-3062-92-4

   1. 2. Pratinjau

Luar biasa. Begitulah kesan yang tersirat setelah membaca buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini. Alur cerita dan gaya bahasa yang disuguhkannya mampu dikemas begitu apik dari awal hingga akhir. Ditinjau dari segi intrinsiknya, novel ini bisa dibilang hampir tanpa cela. Sebab di setiap peristiwa, Andrea dengan cerdas menggambarkan karakteristik dan deskripsi yang begitu kuat pada tiap karakternya. Sehingga pembaca bisa dengan mudah menafsirkan arah jalan ceritanya. Bahasanya pun sangat memikat, dengan dibumbui ragam kekayaan bahasa dan imajinasi yang luas. Novel ini memiliki kekayaan bahasa sekaligus keteraturan berbahasa Indonesia. Dimulai dari istilah- istilah saintifik, humor metaforis, hingga dialek dan sastra melayu bertebaran di sepanjang halaman. Mulanya, cerita ini lebih bernuansa komikal dengan latar kenakalan remaja pada umumnya. Canda tawa khas siswa SMA sangat kental. Namun lebih dalam menjelajahi setiap makna kata demi kata, terasalah begitu kuat karakter yang muncul di tiap-tiap tokohnya. Terlebih saat Andrea membawa kita ke dalam kenyataan hidup yang harus dihadapi tokoh Ikal yang mimpinya seakan sudah mencapai titik kemustahilan, dan dengan sensasi filosofis Andrea kembali membangkitkan obor semangat meraih mimpi dan menekankan begitu besarnya kekuatan mimpi Ikal yang akhirnya dapat mengantarkannya ke Sorbonne, kota
impiannya.

Selain menggambarkan betapa super powernya kekuatan mimpi, pada novel ini Andrea juga mencitrakan kebijaksanaan seorang ayah yang begitu besar. Pengorbanan dan ketulusan seorang ayah dalam mendukung mimpi anaknya di tengah keterbatasan hidup menjadikan semangat tak terbeli bagi Ikal dan Arai dalam menggapai impiannya. Disinilah cerita mulai berevolusi menjadi balada yang begitu mengharu biru. Kesabaran seorang ayah dan rasa sayang seorang anak yang luar biasa besarnya kepada sang ayah menyempurnakan novel ini menjadi bacaan yang begitu kolosal dan sarat akan pesan-pesan moril.

   1. 3. Isi

3.1  Unsur Intrinsik

    * Tema.

Tema yang tersirat dalam novel Sang Pemimpi ini tak lain adalah “persahabatan dan perjuangan dalam mengarungi kehidupan serta kepercayaan terhadap kekuatan sebuah mimpi atau pengharapan”. Hal itu dapat dibuktikan dari penceritaan per kalimatnya dimana penulis berusaha menggambarkan begitu besarnya kekuatan mimpi sehingga dapat membawa seseorang menerjang kerasnya kehidupan dan batas kemustahilan.

    * Latar

Dalam novel ini disebutkan latarmya yaitu di Pulau Magai Balitong, los pasar dan dermaga pelabuhan, di gedung bioskop, di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor, dan Pulau Kalimantan. Waktu yang digunakan pagi, siang, sore, dan malam. Latar nuansanya lebih berbau melayu dan gejolak remaja yang diselimuti impian-impian.

    * Penokohan dan Perwatakan

Ikal  : baik hati, optimistis, pantang menyerah, penyuka

Bang Rhoma Arai  : pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin,  pantang  menyerah  Jimbron : polos, gagap bicara, baik, sangat antusias pada kuda

Pak Balia : baik, bijaksana, pintar

Pak Mustar : galak, pemarah, berjiwa keras

Ibu Ikal : baik, penuh kasih sayang

Ayah Ikal : pendiam, sabar, penuh kasih sayang, bijaksana

Dan tokoh lain Mahader, A Kiun, Pak Cik Basman, Taikong Hanim, Capo, Bang Zaitun, Pendeta Geovanny, Mak cik dan Laksmi adalah tokoh pendukung dalam novel ini.

    * Alur

Dalam novel ini menggunakan alur gabungan (alur maju dan mundur). Alur maju ketika pengarang menceritakan dari mulai kecil sampai dewasa dan alur mundur ketika menceritakan peristiwa waktu kecil pada saat sekarang/dewasa.

    * Gaya Penulisan

Gaya penceritaan novel ini sangat sempurna. Yaitu kecerdasan kata-kata dan kelembutan bahasa puitis berpadu tanpa ada unsur repetitif yang membosankan. Setiap katanya mengandung kekayaan bahasa sekaligus makna apik dibalik tiap-tiap katanya. Selain itu, Novel ini ditulis dengan gaya realis bertabur metafora, penyampaian cerita yang cerdas dan menyentuh, penuh inspirasi dan imajinasi. Komikal dan banyak mengandung letupan intelegensi yang kuat sehingga pembaca tanpa disadari masuk dalam kisah dan karakter-karakter yang ada dalam novel Sang Pemimpi.

    * Amanat

Amanat yang disampaikan dalam Sang Pemimpi ini adalah jangan berhenti bermimpi. Hal itu sangat jelas pada tiap-tiap sub babnya. Yang pada prinsipnya manusia tidak akan pernah bisa untuk lepas dari sebuah mimpi dan keinginan besar dalam hidupnya. Hal itu secara jelas digambarkan penulis dalam novel ini dengan maksud memberikan titik terang kepada manusia yang mempunyai mimpi besar namun terganjal oleh segala keterbatasan.

    * Sudut Pandang

Sudut pandang novel ini yaitu “orang pertama” (akuan). Dimana penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh Ikal dalam cerita.

3.2  Unsur Ekstrinsik

    * Nilai Moral

Nilai moral pada novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang tergambar menunjukkan rasa humanis yang terang dalam diri seorang remaja tanggung dalam menyikapi kerasnya
kehidupan. Di sini, tokoh utama digambarkan sebagai sosok remaja yang mempunyai perangai yang baik dan rasa setia kawan yang tinggi.

    * Nilai Sosial

Ditinjau dari nilai sosialnya, novel ini begitu kaya akan nilai sosial. Hal itu dibuktikan rasa setia kawan yang begitu tinggi antara tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron. Masing-masing saling mendukung dan membantu antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan impian-impian mereka sekalipun hampir mencapai batas kemustahilan. Dengan didasari rasa gotong royong yang tinggi sebagai orang Belitong, dalam keadaan kekurangan pun masih dapat saling membantu satu sama lain.

    * Nilai Adat istiadat

Nilai adat di sini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada sekolah tradisional yang masih mengharuskan siswanya mencium tangan kepada gurunya, ataupun mata pencaharian warga yang sangat keras dan kasar yaitu sebagai kuli tambang timah tergambar jelas di novel ini. Sehingga menambah khazanah budaya yang lebih Indonesia.

    * Nilai Agama

Nilai agama pada novel ini juga secara jelas tergambar. Terutama pada bagian-bagian dimana ketiga tokoh ini belajar dalam sebuah pondok pesantren. Banyak aturan-aturan islam

sumber: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/10/resensi-novel-indonesia-%E2%80%9C-sang-pemimpi-%E2%80%9D/

Cintaku Jauh di Pulau - Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

http://lenterahati.web.id/category/puisi/penyair/chairil-anwar

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Aku berkaca

Ini muka penuh luka
Siapa punya ?

Kudengar seru menderu
dalam hatiku
Apa hanya angin lalu ?

Ah…….!!

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal ………….!!
Selamat tinggal …………….!!

Dari: Deru Campur Debu

sumber: http://lenterahati.web.id/category/puisi/penyair/chairil-anwar

Senja Di Pelabuhan Kecil - Chairil Anwar

Buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

Yang Terampas dan Yang Putus - Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

sumber: http://lenterahati.web.id/yang-terampas-dan-yang-putus.html